#

Jakarta Sebelum Pagi : Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ; Editor, Mira Rainayati, Cicilia Prima

Novel

Jenis Bahan

Monograf

Judul Alternatif

-

Pengarang

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Pengarang) ; Mira Rainayati (Penyunting) ; Cicilia Prima (Penyunting)

Edisi

-

Pernyataan Seri

-

Penerbitan

Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 2025

Bahasa

Indonesia

Deskripsi Fisik

v, 258 Halaman ; 19 cm

Jenis Isi

teks

Jenis Media

Tanpa Perantara

Penyimpanan Media

Volume

ISBN

9786020531373

ISSN

-

ISMN

-

Bentuk Karya

Bukan fiksi atau tidak didefinisikan

Target Pembaca

Umum

Catatan

-


Abstrak

“Jam tiga dini hari, sweater, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.” Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya. Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. Prolog: MESKIPUN ada mayat di dalam lubang kubur, tetap sulit menentukan siapa yang baru saja mati. Nin yang bilang begitu, begitu kami masuk ke dalam mobil. Katanya, orang lewat bisa berpikir kalau kami lupa mengubur satu mayat lagi. Datuk mengeluarkan geraman yang berarti: “Berhenti ngomong, bau.” Dan, Nin, yang sudah terbiasa mengartikan geraman Datuk sejak bayi, menaikkan nada suaranya dan bilang: “Berikutnya dia yang kita kubur!” Sementara Nin sibuk menyumbangkan pendapatnya mengenai luas lubang yang diperlukan untuk mengubur Datuk (“Seluas Samarinda, minimal, untuk perutnya saja! He, Gendut, diet!”), aku memikirkan betapa tepatnya ucapan Nin (bukan soal luas kuburan Datuk). Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Tapi, sepertinya, kematian mengambil keduanya—satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal berusaha mengejar, berharap kematian mau mengembalikan apa yang dia ambil.

No. Barcode No. Panggil Lokasi Perpustakaan Lokasi Ruangan Kategori Akses Ketersediaan
00007005767 899.221 3 ZIG j Perpustakaan Jakarta Timur - Jatinegara
Jalan Jatinegara Timur IV, Rawa Bunga, Jatinegara
RUANG KOLEKSI UMUM TIMUR - Ruang Layanan Khusus Remaja dan Dewasa Lantai 3 Koleksi Umum Dapat dipinjam Dipinjam
00007005769 899.221 3 ZIG j Perpustakaan Jakarta Timur - Jatinegara
Jalan Jatinegara Timur IV, Rawa Bunga, Jatinegara
RUANG KOLEKSI UMUM TIMUR - Ruang Layanan Khusus Remaja dan Dewasa Lantai 3 Koleksi Umum Dapat dipinjam Dipinjam
00007005774 899.221 3 ZIG j Perpustakaan Jakarta Timur - Jatinegara
Jalan Jatinegara Timur IV, Rawa Bunga, Jatinegara
RUANG KOLEKSI TANDON TIMUR - Koleksi Umum Tandon Tersedia
00007005779 899.221 3 ZIG j Perpustakaan Jakarta Timur - Jatinegara
Jalan Jatinegara Timur IV, Rawa Bunga, Jatinegara
RUANG KOLEKSI TANDON TIMUR - Koleksi Umum Tandon Tersedia
00007005784 899.221 3 ZIG j Perpustakaan Jakarta Timur - Jatinegara
Jalan Jatinegara Timur IV, Rawa Bunga, Jatinegara
RUANG KOLEKSI TANDON TIMUR - Koleksi Umum Tandon Tersedia
No. Nama File Nama File Format Flash Format File Aksi
Tidak ada data.
Tag Ind1 Ind2 Isi
001 INLIS000000000886253
005 20251210032442
007 ta
008 251210################g##########0#ind##
020 # # $a 9786020531373
035 # # $a 0010-1225001521
082 # # $a 899.221 3
084 # # $a 899.221 3 ZIG j
100 0 # $a Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie$e Pengarang
245 1 # $a Jakarta sebelum pagi : $b Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ; editor, Mira Rainayati, Cicilia Prima
264 # # $a Jakarta :$b Gramedia Pustaka Utama,$c 2025
300 # # $a v, 258 Halaman ; $c 19 cm
336 # # $a teks$2 rdacontent
337 # # $a Tanpa Perantara$2 rdamedia
338 # # $a Volume$2 rdacarrier
520 # # $a “Jam tiga dini hari, sweater, dan jalanan yang gelap dan sepi .... Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.” Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya. Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta. Prolog: MESKIPUN ada mayat di dalam lubang kubur, tetap sulit menentukan siapa yang baru saja mati. Nin yang bilang begitu, begitu kami masuk ke dalam mobil. Katanya, orang lewat bisa berpikir kalau kami lupa mengubur satu mayat lagi. Datuk mengeluarkan geraman yang berarti: “Berhenti ngomong, bau.” Dan, Nin, yang sudah terbiasa mengartikan geraman Datuk sejak bayi, menaikkan nada suaranya dan bilang: “Berikutnya dia yang kita kubur!” Sementara Nin sibuk menyumbangkan pendapatnya mengenai luas lubang yang diperlukan untuk mengubur Datuk (“Seluas Samarinda, minimal, untuk perutnya saja! He, Gendut, diet!”), aku memikirkan betapa tepatnya ucapan Nin (bukan soal luas kuburan Datuk). Hari ini, di pemakaman, ada orang yang dikubur, dan ada orang yang mengubur. Tapi, sepertinya, kematian mengambil keduanya—satu orang mati dan satu orang hidup. Bukan salah kematian, kurasa. Kematian hanya mengambil satu dari mereka. Masalahnya, yang ditinggal berusaha mengejar, berharap kematian mau mengembalikan apa yang dia ambil.
650 # 4 $a Novel
700 0 # $a Cicilia Prima$e Penyunting
700 0 # $a Mira Rainayati$e Penyunting
990 # # $a T00211884/25
990 # # $a T00211885/25
990 # # $a T00211886/25
990 # # $a T00211887/25
990 # # $a T00211888/25